Ada band-band yang datang, ribut sebentar, lalu hilang seperti mantan yang “butuh ruang.” Dan ada The Morning After — band alternative rock asal Malang yang hilangnya justru meninggalkan jejak aneh: semacam rasa “kok kayaknya mereka harusnya bisa jauh lebih besar dari ini.”
Buat kamu yang tumbuh di era MySpace, radio kampus, dan kompetisi LA Light Indiefest yang dulu serasa Super Bowl-nya anak indie, nama The Morning After mungkin langsung memunculkan aroma masa lalu: panggung kecil yang sesak, gitar yang tajam tapi hangat, dan suara Bambang Iswanto yang seperti orang bertahan hidup dengan sisa-sisa optimisme — tapi dengan kemeja flanel dan rambut berantakan yang stylish.
Awal Terbentuk: Dari Malang Untuk Dunia (atau minimal untuk Indiefest)
The Morning After terbentuk sekitar tahun 2002 di Malang . Sebuah kota yang entah kenapa selalu punya stok band bagus yang muncul dari gang sempit tanpa peringatan. Mereka hadir membawa warna alternative rock yang rapi, emosional, tapi tetap punya ruang buat “kesalahan kecil yang bikin musik bernafas.”
Yang membuat mereka menarik bukan hanya lagunya, tapi dinamika energi dari tiap personel:
- Bambang Iswanto (vokal & gitar)
Suaranya punya karakter melankolis yang tidak dibuat-buat. Ini tipe vokalis yang bikin lagu bahagia pun terdengar seperti pesan suara jam 2 pagi. - Akhmad Sya’ban Nasution (bass)
Permainan bass-nya tebal, dewasa, penuh fondasi. Nggak neko-neko, tapi kalau hilang lagu jadi kehilangan tulang punggung. - Onny Maretino Nugroho (drum)
Drummer yang presisi, tapi tetap manusia — bukan metronom. Ada sedikit “seret” yang justru bikin groove mereka lebih organik. - Pramudya Ananta (gitar)
Masuk di era penting band, terutama saat kompetisi Indiefest dan proses album. Gaya gitarnya atmosferik, melodius, tapi tidak berlebihan.
Formasi ini yang mendorong mereka naik panggung, diliput media, lalu mendobrak masuk ke radar banyak orang yang menganggap Malang cuma punya rock cadas.
Sebelum Ada Era Viral, Mereka Sudah Masuk Indiefest
Tahun 2007, The Morning After lolos LA Light Indiefest—ajang yang, pada masa itu, derajatnya setara “verified check” buat anak indie. Lolos Indiefest berarti satu hal: Band ini serius. Musiknya nggak main-main.
Dari panggung itulah muncul salah satu karya identitas mereka: “Quatro”, yang kemudian masuk kompilasi resmi Indiefest. Tahun 2008—2009, mereka merilis album penuh Another Day Like Today dan masuk nominasi AMI Awards 2009, sesuatu yang jarang terjadi untuk band alternative rock independen. Mereka juga disebut sebagai “Artist to Watch” versi Rolling Stone Indonesia (walaupun sampai sekarang arsip resminya misterius seperti rumor reuni Peterpan).
Satu hal yang membuat mereka stand out: musiknya sangat “global-ready.” Rapi tanpa kehilangan rasa. Alternatif, tapi tidak abstrak. Dan tetap emosional tanpa cengeng. Dengan kata lain: mereka berada di jalur tepat, kalau saja jalur itu tidak mendadak berhenti.
Another Day Like Today: Album yang Menolak Tua

Debut album The Morning After, Another Day Like Today, dirilis pada 2008 lewat Lil’ Fish Record. Bambang Iswanto dan kawan-kawan bercerita melalui akun Instagram bagaimana mereka harus menyewa rumah petak di gang daerah Fatmawati selama proses rekaman album ini.
Mungkin itu sebabnya album ini terdengar seperti campuran energi muda dan kejujuran mentah—raw tapi hangat, kayak kopi hitam tanpa gula yang pahitnya justru terasa pas.
Salah satu lagu, “Dengar dan Diam” menjadi pintu gerbang untuk banyak pendengar muda menemukan mereka. Lagunya terasa seperti memoar kecil: keresahan, hook gitar yang nempel, dan lirik yang membuat orang merenung meskipun hatinya sedang baik-baik saja.
Atau, jika kamu lagi ngerasa putus asa, gagal, atau cuma capek jadi manusia. Coba putar “#1”. Liriknya sederhana, tapi ngena—seperti pelukan hangat versi musik:
Saat semua berjalan lambat
Saat banyak hal yang dikorbankan
Saat tak ada yang bersuara
Tersenyumlah, tersenyumlah lebar
Dan tunjuk ke atas, sejenak
Ada alasan kenapa orang-orang yang tumbuh bersama musik ini sering kembali dan memutarnya ulang. The Morning After merilis suasana, bukan sekedar musik yang enak didengar.
Kalau kamu dulu menjadikan The Morning After sebagai teman playlist, coba dengarkan lagi sekarang. Bukan cuma lagunya yang kembali—versi lama dirimu pun ikut muncul sebentar.
Mungkin itu yang bikin album ini menolak tua.
Kenapa Mereka Jadi Hidden Gem yang Terlalu Cepat Hilang?
Ada beberapa alasan, dan semuanya masuk akal secara tragis:
1. Era digital belum siap
Spotify masih jadi bayi yang baru lahir, YouTube masih chaos, TikTok belum menetas. Banyak band indie bagus yang kurang mendapat kesempatan.
2. Kesibukan personel
Setelah 2009, kehidupan berjalan. Kerja, keluarga, rutinitas. Musik harus kalah oleh realitas sehari-hari.
3. Skena yang padat
Akhir 2000-an adalah era penuh band bagus dari berbagai kota. Kompetisinya brutal.
The Morning After tidak tenggelam karena tidak bagus, tapi karena dunianya belum siap mendukung mereka.
Apa yang Membuat Mereka Layak Diingat?
- Sound alternative yang relevan bahkan di 2025
- Vokal Bambang yang emosional tapi tidak lebay
- Hook gitar dan melodi yang mendalam
- Warisan kecil tapi signifikan untuk musik Malang
- Album yang masih punya “aroma masa muda” meski diputar 15 tahun kemudian
Penutup: Band yang Tidak Besar, Tapi Penting
The Morning After bukan legenda besar. Bukan ikon nasional. Mereka adalah band yang membuat kita sadar bahwa:
musik tidak harus terkenal untuk menjadi berarti.
Saat ini, The Morning After dengan formasi baru—Bambang Iswanto dan Yudha Guriton—coba menghidupkan kembali nafas band ini dengan merilis proyek remaster Another Day Like Today pada Mei 2025. Sebuah lampu kecil yang menandakan mungkin, hanya mungkin, kita akan mendengar lebih banyak lagu baru.
Pada akhirnya, The Morning After bukan hanya band alternatif Malang yang hilang terlalu cepat—mereka adalah bagian dari memori kolektif kita tentang musik Indonesia di era 2000-an. Mendengarkan mereka hari ini bukan sekadar nostalgia, tapi cara merayakan kembali karya yang sempat terlupakan. Dan mungkin, dari sana, kita bisa menemukan ulang diri kita yang dulu ditinggalkan.




