Istilah child grooming belakangan makin sering muncul di ruang publik. Bukan karena praktiknya baru terjadi, tapi karena makin banyak orang mulai menyadari bahwa ada bentuk manipulasi emosional terhadap anak yang dulu terasa “nggak aneh”, tapi sebenarnya bermasalah.
Child grooming jarang datang dengan tanda bahaya yang jelas. Tidak ada adegan dramatis atau kekerasan instan. Yang muncul justru perhatian, rasa aman, dan kedekatan emosional yang dibangun pelan-pelan, sampai batasnya kabur dan anak tidak lagi punya ruang untuk bilang tidak.
Apa Itu Child Grooming dan Kenapa Sulit Disadari
Secara sederhana, child grooming adalah proses manipulasi psikologis di mana orang dewasa (predator) membangun kepercayaan anak untuk mendapatkan kontrol: emosional, psikologis, bahkan seksual. Masalahnya, proses ini sering terlihat “normal” di mata sekitar.
Bentuknya bisa berupa:
- perhatian berlebih
- posisi sebagai “tempat aman” atau “satu-satunya yang ngerti”
- validasi emosional yang terasa menenangkan
- rahasia kecil yang lama-lama jadi besar
Hal ini menjadi berbahaya karena anak belum punya kemampuan membaca niat di balik perhatian yang diberikan. Sementara orang dewasa di sekitarnya sering terlambat menyadari, atau memilih tidak ikut campur karena relasinya terlihat baik-baik saja.
Broken Strings dan Luka yang Baru Terbaca di Usia Dewasa

Di tengah meningkatnya kesadaran soal grooming anak, buku Broken Strings karya Aurélie Moeremans terasa relevan. Dikutip dari Tirto.id, Aurelie menyebut hasil tulisannya sebagai upaya untuk menyuarakan pengalaman hidup yang tersimpan bertahun-tahun.
Yang membuat Broken Strings kuat adalah kejujurannya. Ia tidak hadir sebagai pengakuan sensasional, melainkan refleksi personal tentang luka yang lahir dari relasi timpang di usia muda.
Banyak korban child grooming baru memahami apa yang terjadi setelah dewasa. Bukan karena mereka kurang waspada, tapi karena saat itu mereka belum punya bahasa untuk menyebut manipulasi.
Melalui buku ini, Aurelie tidak sibuk mencari siapa yang paling salah. Justru ia menunjukkan bagaimana pengalaman yang dulu terasa “nggak separah itu” bisa meninggalkan dampak panjang—kebingungan soal batas, rasa bersalah tanpa sebab jelas, dan relasi yang selalu terasa timpang.
Child Grooming di Era Digital
Hari ini, child grooming tidak selalu terjadi secara fisik. Dikutip dari The Guardian, riset terbaru dari Lembaga amal perlindungan anak di Universitas Edinburgh, Childlight, mengungkapkan bahwa terjadi peningkatan praktik child grooming di ruang digital.
Diperkirakan, ada sekitar 830,000 remaja di seluruh dunia terpapar risiko eksploitasi dan kekerasan sosial setiap hari. Media sosial, chat pribadi, voice note, hingga game online menjadi ruang baru untuk membangun kedekatan.
Yang berbahaya di era digital:
- pelakunya bisa menyamarkan identitas
- sering datang sebagai figur mentor, kakak, atau orang “yang dipercaya”
- relasinya terasa aman, personal, dan eksklusif
Di titik ini, pembicaraan soal grooming tidak cukup berhenti pada nasihat agar anak “lebih hati-hati”. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana orang dewasa memahami batas, kuasa, dan tanggung jawab dalam relasi dengan anak.
Bukan Tentang Anak yang Lemah, Tapi Sistem yang Membiarkan
Child grooming bukan terjadi karena anak kurang cerdas atau kurang waspada. Ia terjadi karena ada orang dewasa yang sadar betul cara memanfaatkan kepercayaan.
Cerita seperti Broken Strings penting bukan karena penulisnya figur publik, tapi karena ia membantu banyak orang menyadari satu hal penting: tidak semua luka datang dengan suara keras. Beberapa datang pelan, rapi, dan baru terasa bertahun-tahun kemudian.
Dan mungkin, langkah pertama untuk memutus siklusnya adalah berani mengakui bahwa sesuatu yang dulu terlihat “baik-baik saja”, ternyata tidak pernah benar-benar sehat.


