Apa yang Homer Simpson Ajarkan tentang Slow Living di Era Hustle?

Homer Simpson Bersantai ala Niksen

Di tengah dunia kerja yang mendewakan hustle culture dan produktivitas tanpa henti, Homer Simpson sering tampil sebagai sosok yang dianggap gagal. Ia dicap pemalas, ceroboh, kariernya stagnan, dan kerap dijadikan simbol kegagalan kelas menengah. Sebagai pekerja, Homer nyaris tak punya ambisi besar. Keinginannya sederhana: pulang kerja, duduk di sofa, menonton acara TV favorit sembari meneguk bir dingin.

Dalam standar dunia modern, hidup seperti itu terlihat menyedihkan. Dunia kerja hari ini terobsesi dengan satu narasi besar: hidup harus naik level. Ukurannya pun jelas, karir yang menanjak, skill bertambah, personal branding yang selalu terjaga, dan bahkan waktu luang pun diharapkan tetap produktif.

Di tengah obsesi itu, gaya hidup santai ala Homer Simpson tampak seperti kesalahan. Padahal, disanalah pertanyaan penting muncul: apakah hidup memang harus selalu bergerak maju, atau sesekali kita perlu berhenti tanpa merasa bersalah?

Ketika Sibuk Jadi Prestasi: Produktivitas dan Burnout

Pekerja stres karena banyak deadline
Ilustrasi pekerja stres dan burnout karena deadline dan tekanan kerja. Ilustrasi oleh Freepik

Setelah jam kerja selesai, banyak dari kita sebenarnya belum benar-benar berhenti. Badan sudah di rumah, tapi pikiran masih tertinggal di kantor. Notifikasi masih nyala, email masih kebuka, dan kepala sudah sibuk mikirin kerjaan besok. Di zaman sekarang, sibuk sering dianggap prestasi. Semakin capek, semakin kelihatan “niat hidup”.

Padahal, tekanan produktivitas yang berlebihan justru membawa dampak sebaliknya. Alih-alih membuat hidup lebih bermakna, banyak pekerja justru mengalami kelelahan mental.

Dikutip dari Antara, pakar Human Care Consulting (HCC), Kartika Amelia, menyebutkan bahwa lebih dari 52% karyawan di Indonesia mengalami burnout atau kelelahan kerja kronis. Artinya, rasa lelah ini bukan dialami segelintir orang, melainkan fenomena yang cukup luas.

Beban kerja yang berat, ditambah lingkungan kerja yang kurang mendukung, juga bisa berdampak ke kesehatan mental. Laporan State of the Global Workplace 2024 mencatat sekitar 16% pekerja di Indonesia mengalami stres setiap hari.

Meski angkanya relatif lebih rendah dibanding beberapa negara lain di kawasan ASEAN, data ini tetap menunjukkan bahwa jam kerja panjang dan tuntutan kerja yang terus-menerus membawa risiko nyata bagi kondisi psikologis pekerja.

Mengenal Niksen dan Slow Living: Seni Berhenti di Tengah Dunia yang Ngebut

Di sinilah konsep niksen menjadi relevan. Niksen adalah gaya hidup yang dikenal luas di Belanda, yang secara harfiah berarti tidak melakukan apa-apa. Tapi ini bukan soal bermalas-malasan atau kabur dari tanggung jawab. Ia juga bukan liburan mahal atau meditasi rumit dengan banyak aturan.

Niksen sesederhana memberi diri sendiri izin untuk diam, melamun, atau bengong tanpa tujuan tertentu. Duduk di teras rumah, menatap langit sore, atau menonton televisi tanpa memainkan gawai bisa dibilang praktik niksen.

Saat kita tidak sibuk mengerjakan apa pun, otak masuk ke default mode, kondisi alami yang membantu pikiran beristirahat dan memulihkan diri dari kelelahan mental.

Konsep ini sejalan dengan gagasan slow living yang belakangan semakin populer di kalangan pekerja Indonesia. Slow living bukan berarti anti-kerja keras. Pendekatan ini hanya menolak hidup yang terus dipacu tanpa jeda. Dalam konsep slow living, berhenti atau tidak melakukan apa-apa bukan tanda kemalasan, melainkan bagian dari ritme hidup yang sehat dan manusiawi.

Kenapa Kita Butuh Jadi “Homer” Sesekali

Homer Simpson bersantai di sofa
Homer Simpson “bersantai” di sofa ikonik di seri TV the Simpson. Illustrasi dari facebook resmi The Simpson.

Homer jelas bukan simbol produktivitas. Setelah pulang kerja, ia habiskan waktu dengan duduk di sofa, minum bir, menonton televisi, dan bengong. Tidak ada ambisi setelah jam kerja, tidak ada dorongan untuk terus meng-upgrade diri atau menjadi versi terbaik dari siapa pun. Bagi Homer, hari kerja selesai ya sudah selesai.

Dalam banyak adegan, Homer terlihat konyol. Tapi ada satu hal yang konsisten dari dirinya:ia tahu kapan berhenti. Homer tidak merasa bersalah karena diam. Ia tidak mencoba membuktikan apa pun setelah jam kerja.

Homer Simpson mungkin bukan simbol kesuksesan karier, tetapi di dunia yang menuntut kita selalu aktif dan sibuk, sikap ini terasa seperti bentuk perlawanan kecil yang jujur.

Berhenti Bukan Kalah Namun Cara Menemukan Ritme yang Lebih Manusiawi

Otak manusia tidak dirancang untuk terus-menerus waspada. Tanpa jeda, hidup berubah menjadi rangkaian kewajiban tanpa ruang bernapas. Akibatnya, emosi menumpuk, stress meningkat, dan kreativitas mengering.

Seorang psikolog senior dari California State University, Francis Toder, menjelaskan bahwa hormon stres kortisol akan meningkat saat kita terus sibuk. Dampaknya bukan cuma mental namun juga ke tubuh yang jadi lebih rentan sakit.

Jalan keluarnya? Kadang jawabannya sangat sederhana. Berhenti sebentar. Duduk diam. Jangan mengejar apa pun.

Niksen dan slow living bukan ajakan untuk menyerah pada hidup atau ambisi. Keduanya justru mengingatkan kita bahwa manusia butuh ritme, bukan hanya target. Setelah jam kerja, kita berhak tidak produktif, tidak ambisius, dan tidak menjelaskan apa pun kepada siapa pun.

Kadang kita perlu menjadi seperti Homer Simpson. Duduk santai menikmati acara televisi favorit. Tanpa tujuan dan tanpa rasa bersalah, dan mungkin justru itu cara paling sederhana untuk tetap waras di dunia yang sudah terlalu bising.

Bagikan