Ada lelah yang masih masuk akal: lembur, dikejar deadline, atau rapat panjang yang seharusnya selesai lewat email. Tapi ada juga lelah lain, yang jarang dibahas dan anehnya tetap menempel, bahkan setelah jam kerja usai.
Kamu pulang dengan kepala penuh. Bukan karena tugas, tapi karena pikiran yang terus muter: mempertanyakan keputusan sendiri, meragukan kemampuan yang sebelumnya baik-baik saja.
Jenis capek ini nggak pernah muncul di laporan performa. Nggak tercatat di KPI. Tapi tubuh dan pikiran tahu persis rasanya. Dan sering kali, sumbernya bukan pekerjaannya, melainkan orang-orang di sekitarmu. Kalau pengalaman ini terdengar familiar, bisa jadi kamu sedang bekerja dengan rekan, senior, atau atasan yang memiliki kecenderungan Narcissistic Personality Disorder(NPD).
Mewaspadai NPD di Kantor yang Nggak Selalu Kelihatan Jahat
NPD sering dibayangkan sebagai sosok yang terang-terangan narsis: haus pujian, merasa paling hebat, dan ingin selalu disorot. Padahal di lingkungan kerja, wujudnya jauh lebih halus dan sering kali terlihat “ideal”. Mereka bisa tampil karismatik, ramah, bahkan terkesan sangat baik hati.
Tak jarang, mereka adalah orang yang rajin mentraktir makan, dipuji sebagai pemimpin visioner, figur tegas yang dihormati, atau rekan kerja yang seolah selalu punya ide cemerlang. Dari luar, hampir tak ada yang mencurigakan.
Masalahnya bukan pada kepercayaan diri mereka. Tapi, kebutuhan untuk terus menjadi pusat perhatian, serta kecenderungan menjadikan orang lain sekadar latar. Bahkan kebaikan-kebaikan yang terlihat tulus itu, sering kali menjadi bagian dari cara mereka mengukuhkan posisi sebagai pusat sorotan.
Bekerja dengan orang NPD jarang ditandai pertengkaran besar atau drama terbuka. Kelelahannya justru datang dari hal-hal kecil yang terus berulang, hampir tak terasa, tapi menggerus.
- Ide kamu dianggap biasa, tapi jadi brilian saat diulang oleh mereka
- Kerja tim terasa kolektif, sampai tiba giliran presentasi dan hanya satu nama yang menonjol.
- Masalah dibahas berkali-kali, namun arah tanggung jawab selalu kabur.
Tanpa kamu sadari, tubuh dan pikiran mulai merasa lelah. Bukan karena beban kerja, melainkan karena ada sesuatu yang terus menguras energi, meski sulit menunjuk penyebab pastinya.
Ciri-Ciri Rekan Kerja atau Atasan NPD yang Sering Dinormalisasi
Karena terjadi hampir setiap hari, banyak perilaku NPD di kantor akhirnya dinormalisasi. Kita terbiasa, lalu menganggapnya bagian dari dinamika kerja. Padahal, mengenali polanya sejak dini bisa menyelamatkan kita dari kelelahan yang tidak perlu. Berikut beberapa tanda yang sering luput disadari:
1. Selalu Ingin Jadi Pusat Perhatian di Kantor
Meeting perlahan berubah jadi panggung. Apa pun topiknya, ujung pembicaraan hampir selalu kembali ke mereka. Kontribusi orang lain mengecil, sementara peran mereka terus diperbesar.
2. Kritik Jalan Satu Arah dan Anti Evaluasi
Mereka bebas mengoreksi, mengomentari, bahkan meremehkan pekerjaan orang lain. Namun saat giliran menerima kritik, responsnya defensif, menyudutkan, atau berubah jadi serangan balik. Bagi mereka, dikritik bukan masukan melainkan ancaman.
3. Empati yang Bersyarat
Kepedulian muncul jika itu memperkuat citra diri. Tapi ketika kamu benar-benar butuh dukungan, mereka menghilang. Kelelahan emosional dianggap tidak profesional, seolah manusia di kantor hanya boleh berfungsi, bukan merasa.
4. Gaslighting Halus yang Bikin Meragukan Diri
Tidak ada larangan untuk bicara. Namun setiap kali membuka suara, kamu pulang dengan perasaan sia-sia. Akhirnya, diam terasa lebih aman. Lewat gaslighting yang halus, orang dengan kecenderungan NPD membuatmu terus mempertanyakan diri sendiri, bahkan merasa bersalah atas hal yang tidak kamu lakukan.
Kenapa Orang NPD Bisa Bertahan dan Naik Jabatan?
Jawabannya sederhana , karena budaya kerja kita kerap mengagungkan sifat-sifat yang nyaris mirip dengan NPD: kepercayaan diri berlebihan, ambisi tanpa henti, dan dominasi yang dipoles sebagai kualitas kepemimpinan. Tak heran jika orang-orang dengan kecenderungan NPD justru lebih mudah mendapat ruang, pengaruh, dan posisi yang semakin kuat.
Di sisi lain, empati sering diperlakukan sebagai nilai tambah, bukan kebutuhan dasar. Refleksi diri justru dianggap tanda kelemahan. Dalam sistem seperti ini, mereka yang paling vokal kerap dinilai paling kompeten. Sementara yang kelelahan diminta untuk lebih menyesuaikan diri, lebih tahan banting, dan lebih “dewasa”.
Akibatnya, perilaku bermasalah jarang disentuh. Yang terdampak justru diminta bertahan
Cara Menghadapi NPD (Tanpa Berusaha Mengubah Mereka)

Tulisan ini bukan panduan mengalahkan NPD. Karena jujur saja, kamu nggak bisa menang di permainan yang aturannya mereka buat sendiri. Yang bisa dilakukan adalah bertahan tanpa kehilangan diri sendiri.
1. Turunkan Ekspektasi Emosional
Berhentilah berharap mereka akan mengerti, berubah, atau tiba-tiba menunjukkan empati. Harapan itu cuma bikin kamu lelah dua kali. Bagi orang dengan kecenderungan NPD, fokus utama mereka adalah tetap menjadi pusat perhatian. Bukan membangun koneksi emosional yang sehat.
2. Menjaga Batasan Emosional di Lingkungan Kerja
Hindari curhat personal. Isi pembicaraan tetap pada topik pekerjaan. Emosi sering kali dijadikan senjata balik di kemudian hari. Jika mereka mulai mengulik kehidupan pribadimu, menolak secara halus adalah langkah aman. Tetapkan batasan yang tegas sedini mungkin.
3. Dokumentasikan Segalanya
Simpan semua jejak komunikasi—email, pesan, hingga brief kerja. Bukan untuk menyerang, melainkan sebagai perlindungan diri. Catatan ini penting jika suatu hari narasi dipelintir dan tanggung jawab dialihkan kepadamu.
4. Jangan Terpancing Adu Ego
NPD hidup dari reaksi. Semakin kamu terpancing, semakin besar rasa kuasa yang mereka rasakan. Belajar untuk bersikap datar dan tidak responsif memang tidak mudah, tetapi itu cara terbaik untuk menghemat energi untuk hal yang benar-benar penting.
5. Cari Validasi di Luar Lingkaran Mereka
Teman, mentor, atau komunitas. Apa pun yang bisa mengingatkan bahwa kamu tidak gila dan tidak sendirian. Cari ruang di mana mereka tidak hadir. Dan jika memungkinkan, siapkan jalan keluar secara tenang: tanpa drama, tanpa pengumuman besar, dengan perhitungan matang.
Pesan yang Nggak Nyaman, Tapi Perlu
Kadang yang menggerus kita pelan-pelan bukan pekerjaannya, melainkan ekosistem di sekitarnya. Bertahan terlalu lama di lingkungan yang keliru sering membuat kita menyalahkan diri sendiri seolah semua kelelahan ini akibat dari kurang kuat atau kurang mampu.
Padahal, bisa jadi masalahnya bukan kamu. Bisa jadi kamu hanya terlalu lama berusaha tetap waras di ruang yang tidak sehat.
Rasa capek itu nyata, meski tidak pernah tercatat di laporan bulanan atau evaluasi kinerja. Kamu tidak punya kewajiban untuk terus membuktikan diri pada orang-orang yang sejak awal tidak berniat memahami.
Pada akhirnya, pekerjaan seharusnya memberi ruang untuk bertumbuh, bukan perlahan mengikis. Dan memilih untuk menjaga diri sendiri bukan tanda kelemahan, itu bukti bahwa kamu masih utuh.





